Tadzkirah : Ramadhan Telah Berlalu, sudahkah Alqur’an Mulia di dalam hati kita?

Review : Taujih Prof. Kh. Roem Rowi

Sebagai Mahluk yang paling Mulia, Manusia dibekali dengan kecerdasan dan Intelektualitas. Sebagai Hamba Allah, kita meyakini Alqur’an berada pada posisi tertinggi sebagai pedoman dan tuntunan kehidupan kita. karena Alquran ini mulia, maka sebagai seorang mukmin kita memiliki cara pandang yang berbeda dalam memuliakannya.

Letak perbedaan pandangan yang paling menonjol adalah keimaman kita kepada yang ghoib. karena di dalam Surah ke-2 dijelaskan bahwa runtutannya adalah, petunjuk bagi orang yang bertakwa, lalu beriman kepada yang ghoib, baru kemudian melaksanakan sholat zakat dan seterusnya.

Salah satu washilah menuju Allah yang paling istimewa adalah Sholat. Dalam bahasa Baginda Rasulullah Sallahu alaihi Wa Sallam, Sholat itu Mi’rajul Mu’minin (Tangga bagi seorang mukmin menuju Allah). Selain itu juga sholat menjadi momen tuma’ninah dan kebugaran Qalbi bagi Rasulullah Sallahu alaihi Wa Sallam. Dengan Sholat diringankan beban psikologis dan ditenangkan dari berjimbun-jimbun urusan. Bahkan hal yang paling dirindukan oleh Nabi Muhammad adalah saat-saat menantikan waktu Shalat.

Kembali lagi, lantas apa yang di maksud dengan yang ghaib pada pembahasan di awal? Sebagai Mukmin yang baik, kita meyakini bahwa yang ghaib itu adalah,
Allah Melancarkan segala Urusan kita
Allah Menjauhkan kita dari Penyakit
Allah Menjauhkan kita dari siksa Api Neraka
Beban-beban Hidup Kita diringankan oleh Allah
Maka inilah cara pandang dari seorang Mukmin.

Kemudian Ibadah yang telah kita laksanakan selama bulan Ramadhan kemarin adalah Ibadah puasa. Lantas puasa yang paling baik adalah Puasanya Qalbu. Makna Qalbu itu sebenarnya lebih condong merujuk pada Otak. Dengan itu kita berfikir, berdzikir dan memahami. Maka dengan Puasanya Qalbu akan berindikasi pada dua hal, yaitu Good Head and Good Heart.

Secara fisik dan psikis yang dipuaskan itu ada dua, yaitu perut dan yang ada di bawah perut. Seringkali perilaku kita dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Jika dua hal ini tidak terkendali, maka Manusia akan menjadi lebih buas daripada Harimau. Sebagaimana Isyarat Rasullah Sallahu alaihi Wa Sallam, Bagi mereka yang bisa mengendalikan dua nafsu, yang ada pada perut dan bawah perut maka dia akan menjadi penduduk Syurga.

Sebagai Mukmin, kita juga dianjurkan untuk memperhatikan Informasi yang kita terima. Pada Zaman Big data dan arus infomasi yang serba cepat, memahami dan mencermati perkataan orang lain atas informasi yang disampaikan kepada kita menjadi hal yang perlu. Dalam bahasa Alqur’an adalah Tabayyun (gerakan anti Hoaks). Namun ketika yang mengucapkan adalah Allah dan Rasulnya maka kita harus Sami’na Wa Ata’na. Disamping kita harus memfilter informasi yang disampaikan orang lain kepada kita. terlebih yang menyampaikan itu adalah orang kafir.

Sebagai penutup ada sebuah kisah yang patut kita ambil Hikmah. Kisah ini tentang Amirul Mukminin Umar Bin Khatab Radillahu anhu dan Sahabat Hudzaifah. Pada saat keduanya bertemu, Khalifah Umar bertanya,
“Bagaimana Kabarmu wahai Hudzaifah?”
mendengar tanya dari sang khalifah, Hudzaifah kemudian malah menjawab,
“Aku sekarang mencintai fitnah, aku membenci yang haq.”
Pernyataan Hudzaifah ini tentu akan menggegerkan Umat Muslim jika tidak dibarengi dengan penjelasan yang lengkap. Karena pernyataan tersebut merupakan statemen potongan. Kemudian pada Statemen kedua lebih mencengangkan,
“Aku Sholat tanpa whudu dan aku memiliki sesuatu di Bumi tetapi Allah tidak memilikinya.”

Mendengar pernyataan dari sahabat Hudzaifah tadi, Sang Alfaruq sangat marah dan memintanya untuk menjelaskan maksud dari kata-kata barusan. Melihat sahabat Umar yang tengah marah, kemudian datanglah Abu Hasan (Ali bin Abi Thalib),
“Mengapa anda terlihat marah kepada Hudzaifah Sahabatku?” Tanya Abu Hasan kepada sang Al Faruq.
Abu Hasan menegaskan, bahwa Sahabat Hudaifah ini adalah orang yang sangat jujur dan tidak munafik. Kemudian Abu Hasan menjelaskan kepada Sayyidina Umar,
“Ya Umar, Fitnah yang dimaksudkan adalah Harta dan anak. semua itu adalah fitnah, sementara Hudzaifah sangat mencintai Anak dan Istrinya. kemudian maksud Hudzaifah membenci yang Haq adalah Kematian. Sementara kematian adalah hal yang pasti terjadi. Sedangkan maksud dari Shalat tanpa Wudhu adalah bersalawat kepada Rasulullah Sallahu alaihi wa sallam. Lalu sesuatu yang dimiliki oleh Hudzaifah dan tidak dimiliki oleh Allah adalah Istri dan Anak. Karena Allah tidak beranak dan diperanakan.” Jelas Abu Hasan Kepada Umar Bin Khatab Radiallahu anhu.

Mendengar penjelasan dari Abu Hasan, lantas Umar Bin Khatab menerimanya dengan lapang dada

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + four =

Scroll to Top