Mimbar Inspirasi : Mushaf Kontemporer

Nuansa Mimbar Inspirasi tentang Mushaf kontenporer di aula asrama STIDKI Arrahmah Surabaya tampak berbeda dari seminar Al-qur’an pada biasanya. Aula tersebut dipenuhi oleh 120 mahasiswa yang sedang khusyuk menyimak materi yang disampaikan. (Rabu, 02 Maret 2022)

Mimbar inspirasi ini dilaksanakan full luring yang juga turut diramaikan oleh para dosen dan civitas akademik STIDKI Ar Rahmah.

Berkenaan dengan materi Mushaf Kontenporer, kampus penghafal Alqur’an itu mendatanggkan pemateri dari kemntrian agama yakni Dr. Abdul Hakim Syukrie, M. Si dan Dr. Zainal Arifin Madzkur, MA. Kedua pemateri ini merupakan seorang pentashih Al Qur’an.

Materi yang disampaikan lebih condong kepada ilmu Alqur’an dibanding ketahfidhan atau praktik menghafal Alqur’an. Sebagian besar mahasiswa merasa awam terkait Mushaf Kontenporer itu seperti apa. Mereka merasa selama ini menghafal saja dan kurang mendalami tentang ilmu yang berkenaan dengan permushafan terhadap mushaf yang sehari-hari mereka gunakan untuk menghafal

Sebelum materi disampaikan oleh pemateri, Ust Faiz Khudlari Thoha, MM selaku Kaprodi Manajemen Dakwah beliau memberikan sambutan untuk menstimulus semangat mahasiswa dalam belajar,

“ Siklus belajar itu berawal dari inkompotensi atau pengetahuan itu kadang merupakan sesuatu yang kita lakukan tanpa kita sadari.” Ujar Faiz

Acara dimulai dengan sebuah sesi tanya jawab yang dipandu langsung oleh pemateri pertama Dr. Abdul Hakim Syukrie, M.Si. Pada sesi satu ini dengan gaya yang santai ust  Syukrie memprsilahkan kepada seluruh mahasiswa yang ingin bertanya.

Muncul banyak pertanyaan di awal yang membuat suasana di aula asrama semakin syahduh.

“Apa yang ada di kepala kalian saat pertamakali mendengar Mushaf Kontenporer?” ujar syukrie sambil mempersilahkan mahasiswa untuk bertanya.

Setelah dialog yang panjang kemudian lahirlah pertanyaan dari para Mahasiswa diantaranya tentang perbedaan tanda waqof yang ada, studi kasus perbedaan ayat pada mushaf indonesia dengan mushaf madinah, persoalan mushaf digital dan manfaat belajar mushaf kontenporer.

Pemateri yang disapa ust Syukrie mengawali untuk menjawab pertanyaan.

“pada masa sayyidinaa Ali itu ada Alqur’an yang dimuat di atas Unta sebanyak 7 jilid.” Ujar Syukrie.

Beliau menegaskan pada masa itu belum ada ketentuan baku tentang  jumlah baris pada sebuah mushaf. Aturan  15 baris sendiri berawal dari abad 18 yaitu berasal dari Turki. Kemudian ditambahkan bahwa telah ditemukan sebuah manuskrip yang  menjadi bukti Alqur’an itu telah disalin pada abad ke-19. Bahkan akan ditemukan sebuah perbedaan menohok antara mushaf yang ada di Indonesia dengan di negara lain. Misalnya di Negara India pada setiap sisi kanan Mushaf itu selalu diawali dengan huruf alif semua.

“itulah mu’jiz nya Alqur’an, walaupun dibolak-balik bagaimana pun pasti akan terlihat rapi.” Tegas Syukrie.

Belajar tentang permushafan sendiri merupakan sesuatu yang sangat penting. Ada banyak sekali manfaat yang bisa dijumpai di dalamnya. Dari sisi materi pembuatan Mushaf sendiri sangat memberdayakan secara ekonomi, sebagaimana dikonfirmasi oleh Ust Syukrie,

“Mushaf itu terdiri dari sampul dan isi. Sampulnya itu pembuatannya pabrik sendiri, nilonnya/benangnya sendiri, yang menjahit sendiri, kertasnya juga pabrik sendiri.”

Selain itu juga jika ditelisik dari sisi keilmuan sangat banyak ilmu yang terkandung di dalamnya. Ada ilmu qiraat ilmu tentang bacaan, ilmu waqf (berhenti) wal ibtida’ (memulai), ilmu dabth (harokat) wa syakl., ilmu alqiroaat alghoribah (macam-macam bacaan asing), ilmu Al-Makki wal Madani (tentang tempat turunnya ayat) , tartib Nuzulsuwwaril Qur’an (urutan dalam Al Qur’an), ilmu ayat sajadah, tanda-tamda baca. Semua ilmu-ilmu yang ada di dalam alqur’an saling menguatkan satu sama lain. Semua ilmu itu punya pendapat masing-masing dalam setiap disiplin ilmu.

Dalam perihal pentashihan menurut ust Syukri harus mengedepankan asas su’udzon dalam rangka betul-betul ingin mengetahui kekeliruan yang terkandung dalam kepenulisan mushaf. Hemat syukrie yang menjadi  pentashih sesungguhnya itu adalah kaum muslim sendiri. Kadang ketika sudah ada stempel resmi diterbistkannya sebuah mushaf, kemudian ketika dalam pengajian tadarus ditemukan sebuah kesalahan penulisan, kemudian baru diangkat lagi ke bagian tashih Al qur’an kemenag ri.

Kadang dari laporan kesalahan penulisan paling banyak berasal dari mushaf yang bukan terbitan dari kementrian agama RI. Perbedaan yang terjadi pada mushaf non Kemenag sendiri bukan karena sepenuhnya salah, melainkan memang ada perbedaan penulisan dengan merujuk pada ulama yang berbeda.

Pada sesi yang kedua giliran Dr. Zainal Arifin Madzkur. Pada awal materinya beliau membukanya dengan makna rosm.

“Rosm itu merupakan canggkang huruf tanpa menggunakan titik.”

Dalam rosm usmani sendiri dijelaskan bahwa ada yang namanya syakhooni atau dua guru besar di dalamnya. Ada madzahb imam Ad-dani dan Madzhan imam Abu Daud keduanya merupakan guru dan murid. Dalam perihal guru dan murid saja sering ditemukan banyak perbedaan di antara keduanya.

Kemudian muncul pertanyaan dari salah satu mahasiswa, mengapa Al-alaq 1-5 yang turun pertama justru yang menjadi surat pertama dalam urutan mushaf justru surah Alfatiha.

Ust Zainal Arifin menjelaskan bahwa urutan Al-qur’an itu berdasarkan setoran nabi kepada Malaikat jibril atau Al Ardhatul Aakhira bukan berdasarkan tartib nuzuli atau urutan ayat yang turun. Jadi mengapa bukan al-alaq tidak diletakan pada urutan pertama mushaf merujuk pada Al Ardhatul Aakhira bukan Tartib nuzuli.

Kemudian ust Zainal menambahkan bahwa Al-qur’an ini selalu melindungi dirinya sendiri.Para orientalis kadang yang mencoba untuk mendalami dan mencari-cari kelemahan rata-rata berujung pada kebuntuan. Kadang dalam memahami literatur gramatikal bahasa Arab sendiri mereka selalu berpendapat ini merupakan huruf-huruf misterius yang di kalangan mereka sendiri masih belum terpecahkan.

Pada closing Statement Ust Syukrie memberi motivasi,

“seorang Imam level asia pasifik harus mengambil manfaat terhadap ilmu-ilmu yang terkandung di dalam Al Qur’an.”

Kemudian Ust Zainul Arifin menambahkan,

“ Jangan puas dengan hafalan, ada ilmu-ilmu yang lain harus kita gali.”

Acara berakhir ditandai dengan pemberian mushaf kepada dua penanya terbaik dan dokumentasi foto bersama para asatid STIDKI Ar Rahmah Surabaya. (Sidiq Ibrahim)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − four =

Scroll to Top